Minggu, 05 September 2010

kiamat semakin dekat

Hanya sebagai perenungan saudaraku semua, beberapa fenomena alam yang beberapa waktu terakhir ini terjadi dan menggemparkan seluruh dunia.
  1. Pecahnya bongkahan es dikutup utara seluas lebih dari 200km. kejadian ini diprediksikan menurut badan meteorologi dan geofisika serta semua pengamat bumi diseluruh dunia, akan menyebabkan kenaikan permukaan air laut diseluruh dunia setinggi lebih dari 6 meter. menurut BMG indonesia, pada tahun 2020, tinggi air di jakarta mencapai setinggi monas. kejadian pecahnya gletser dikutub utara ini diprediksi akan menenggelamkan lebih dari 20.000 pulau diseluruh dunia. 
  2. Munculnya embrio matahari baru yang beberapa tahun kedepan dapat melebihi besarnya matahari yang ada sekarang sampai beberapa kali.sebelumnya, di al qur'an telah dijelaskan bahwa salah satu tanda datangnya hari kiamat adalah terbitnya matahari dari barat. namun tidak pernah dijelaskan bagaimana awalnya sampai kejadian itu terjadi.
Menurut BMG, fenomena (temuan) alam yang terjadi saat ini dapat menyebabkan matahari terbit dari barat. hal itu dikarenakan masa "embrio matahari baru" ini akan menjadi bintang terbesar diseluruh galaksi bimasakti. akibatnya, matahari yang selama ini menjadi sumber energi seluruh dunia pun akan beredar mengelilingi matahari baru tersebut karena gaya grafitasinya lebih besar. hal ini tentunya tidak hanya berpengaruh dengan perubahan peredaran planet2 di angkasa, namun juga berpengaruh terhadap seluruh atmosfer di seluruh planet, termasuk bumi.
berikut petikan "tanda2 kiamat yang pernah disampaikan nabi dan beberapa hadiz, dan tercantum dalam alqur'an"
Terbitnya matahari dari timur dan terbenam di barat merupakan sunnatullah terhadap alam semesta, akan tetapi hikmah Allah yang bijak telah berkehendak untuk menjadikan terbitnya matahari dari barat sebagai salah satu tanda yang jelas akan datangnya Kiamat.Adapun sunnah maka hadits riwayat Muslim nomor 2942 dan Abu Dawud nomor 4310 dari Abdulah bin Amru bin Ash berkata, “Saya menghafal dari Rasulullah saw sebuah hadits yang tidak pernah aku lupakan, saya mendengarnya bersabda, ‘Sesungguhnya tanda Kiamat yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat, keluarnya binatang bumi kepada manusia di waktu dhuha. Apa pun yang muncul terlebih dahulu maka yang lain akan segera menyusul di belakangnya.”
dan berikut petikan tentang "embrio matahari baru"
Sebuah calon bintang raksasa dengan massa jauh lebih besar dibanding Matahari di tata surya ini sedang tumbuh dalam sebuah gelembung gas. Gambar embrio bintang tersebut terekam oleh teleskop Herschel milik Badan Luar Angkasa Eropa (ESA). Berita luar angkasa dari hasil tangkapan Teleskop Herschel cukup membuat perhatian lebih para peneliti di dunia, karena teleskop tersebut berhasil menangkap embrio bintang baru yang berada di tata surya kita. Bintang tersebut bisa kita sebut sebagai sang Matahari baru karena jika di perhatikan dan di teliti untuk ukuran jika sudah terbentuk nanti bisa saja besar nya akan melebihi matahari yang sudah ada dalam susunan tata surya bima sakti kita. Diberitakan dari laman stasiun televisi BBC, citra gelembung gas yang disebut RCW 120 itu dirilis beberapa hari menjelang peringatan satu tahun peluncuran teleskop Herschel ke orbit. ESA meluncurkan teleskop Herschel pada 14 Mei 2009. Detektor inframerah milik Herschel mampu melihat materi bersuhu rendah yang bisa melahirkan bintang. Citra seperti RCW 120 akan membantu menjelaskan bagaimana proses sebuah bintang raksasa terbentuk. Calon bintang raksasa dalam citra teleskop tersebut tampak seperti sebuah gumpalan putih di tepi bawah gelembung. Embrio itu diperkirakan bisa tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar dan yang paling cerah di galaksi dalam ratusan ribu tahun mendatang. Calon bintang raksasa tersebut sudah memiliki massa sekitar delapan hingga sepuluh kali lebih besar dibanding massa Matahari, dan dikelilingi begitu banyak material. Bila lebih banyak gas dan debu berjatuhan di bintang tersebut, objek itu berpotensi menjadi salah satu objek raksasa dalam Galaksi Bima Sakti, dan akan berpengaruh bagi lingkungan sekitarnya. "Ini merupakan bintang besar yang mengontrol evolusi kimia dan kedinamisan galaksi," terang ilmuwan Herschel, Dr. Annie Zavagno, dari Laboratoire d'Astrophysique de Marseille. "Ini merupakan bintang besar yang menciptakan elemen berat seperti besi dan elemen-elemen tersebut akan berada di ruang antar bintang. Dan karena bintang-bintang besar mengakhiri hidup mereka dengan ledakan supernova, mereka juga menyuntikkan energi besar ke galaksi," lanjut Zavagno. Herschel memiliki kemampuan unik yakni mampu melihat proses fisik yang tidak bisa dilakukan teleskop lain. Teleskop Hubble misalnya, tidak bisa melihat secara detail seperti yang dihasilkan Herschel"
bagi teman2 yang penasaran, silahkan search informasi ini dari sumber manapun.
ya allah, semoga dengan peringatan ini kita benar2 bisa bertaubat dan lebih keras beribadah..
allahuakbar...!

PENELITI : KIAMAT TERJADI SETIAP 27 TAHUN

Para peneliti kini 99 persen yakin bahwa peristiwa kehancuran massal di Bumi terjadi secara reguler, seteratur jarum jam berputar. Begitulah temuan para ilmuwan dari Universitas Kansas dan Smithsonian Institute di Amerika Serikat setelah mereka memetakan semua armagedon sejak 600 juta tahun yang lalu.
Astrofisikawan dari Universitas Kansas, Dr. Adrian Melott, dan palaeontologis dari Smithsonian Institute, Dr. Richard Bambach, mengungkapkan dalam kurun waktu itu kiamat di Bumi terjadi setidaknya tiap 27 juta tahun sekali.
Dan penyebab kiamat mendatang, menurut para peneliti itu, ternyata bukanlah pemanasan global.
Lalu apa?
Planet kita selalu melintasi hujan komet tiap 27 juta tahun, dan ternyata sangatlah jarang Bumi berhasil lolos dengan selamat. Selama 20 kali melewati cobaan maut itu, Bumi hanya berhasil lolos dari lubang jarum dan mempertahankan sebagian besar organisma biologis yang hidup di atasnya, sebanyak enam kali saja.
Yang paling terkenal adalah bencana dahsyat 65 juta tahun lalu, saat asteroid selebar 15 kilometer menghantam Bumi–di titik yang sekarang merupakan wilayah Meksiko–dengan kekuatan miliaran kali bom atom dan lalu menyapu habis Dinosaurus dari muka Bumi.
Lebih celaka lagi, periode putaran kiamat ini tak akurat betul. Terkadang, asteroid-asteroid menghantam semua makhluk hidup di muka bumi, 10 juta tahun lebih cepat dari yang semestinya.
Tapi, janganlah buru-buru panik. Masih ada kabar baik.
Ini menyangkut Nemesis, bintang kembar gelap dari matahari. Selama ini, Nemesis selalu dituding jadi biang keladi. Teori umumnya begini: tiap 27 juta tahun sekali, Nemesis melintasi sabuk raksasa debu dan es yang disebut awan Oort, dan gara-gara itu lalu melontarkan komet-komet ke Bumi.
Sekarang, para ilmuwan mengatakan: karena skenario kiamat terjadi secara begitu reguler, Nemesis tidaklah mungkin jadi penyebab utama karena orbitnya akan mengalami perubahan dalam kurun waktu sebegitu lama.
Tapi, ini bukan berarti bahwa Nemesis–yang terletak sekitar satu tahun cahaya dari matahari–tidak akan lagi menyemburkan komet-komet awan Oort-nya ke seantero galaksi kita. Sekarang ini, komet-komet itu sedang menghajar planet-planet lain di luar Bumi.
Jadi, karena armagedon terakhir terjadi 11 juta tahun lalu, maka berdasarkan teori ini, Bumi baru akan kiamat pada tahun 16.002.010–bukan dua tahun mendatang, seperti yang difilmkan Roland Emmerich di “2012.”
Artinya, silakan Anda menghirup nafas lega-lega–sepanjang pemanasan global tak segera menciptakan kiamat yang lain. (News.com.au, Telegraph | kd)

Bumi akan Mengalami Kepunahan Masal

Dunia menghadapi ancaman kepunahan massal yang bahkan lebih hebat daripada kemusnahan spesies Dinosaurus dari muka Bumi. Itu adalah penelitian terbaru para ilmuwan Australia.
Palaebiologis dari Macquarie University, Dr John Alroy mengatakan hal itu berdasarkan fosil untuk melacak nasib kelompok utama binatang laut sepanjang sejarah Bumi.
Dia lalu mengkompilasikan data dari sekitar 100.000 fosil, melacak nasib hewan laut, selama masa kepunahan ekstrim yang terjadi sekitar 250 juta tahun yang lalu.
Penemuan tersebut dipublikasikan minggu ini di jurnal internasional ilmu pengetahuan, Science. Temuan itu menunjukkan peristiwa kepunahan dahsyat sedang berlangsung saat ini, dan berpotensi menjadi yang terparah sepanjang sejarah.
“Organisme yang mungkin bisa bertahan di masa lalu, mungkin tidak akan mampu saat ini,” kata Dr Alroy, seperti dimuat laman News.com.au, Sabtu 3 September 2010.
“Ini mungkin berakhir dengan perubahan dasar laut secara dramatis karena perubahan dominasi kelompok. Kepunahan yang berlangsung saat ini akan membalik keseimbangan kelompok hewan laut.”
Penelitian ini juga menunjukkan perilaku manusia dan perubahan iklim akan berdampak malapetaka pada semua spesies di Bumi.
“Kapan terjadinya kemusnahan massal, masih jadi pertaruhan, namun apapun bisa terjadi,” tambah Alroy.
“Jadi, apa yang sedang kita semua lakukan sebagai spesies manusia adalah menjalankan eksperimen raksasa terhadap alam ini.”
Sejarah mencatat, ada tiga peristiwa kepunahan massal dan hampir semua ahli biologi setuju dunia saat ini mengalami hal serupa.
Kepunahan massal terakhir diperkirakan terjadi 65 juta tahun lalu saat asteroid menghantam Meksiko dan membuat Dinosaurus musnah — memberi ruang bagi mamalia untuk berkembang.
Alroy mengatakan, kepunahan massal baru tidak akan terjadi dengan skrenario yang sama, faktor luar — hantaman komet ke Bumi.
Yang sekarang sedang terjadi, kehancuran pada dasarnya berasal dari dalam. Kepunahan massal berikutnya bersal dari sejumlah faktor, dari spesies asing, akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida, polusi, dan deforestasi.
Perubahan iklim dan pertumbuhan manusia yang tak terkendali juga memainkan peranan.
Namun, sedikit kabar baiknya, kepunahan massal saat ini tidak akan seburuk 250 juta tahun lalu, yang dikenal dengan kepunahan Permian-Triassic atau ‘The Great Dying’.
“Aman untuk mengatakan kehilangan yang akan kita alami belum sedahsyat masa itu. Tapi sangat mungkin untuk mengatakan kita bisa merasakan kehilangan yang sama.”
“Saat ini kita sedang bermain-main dengan proses evolusi dalam skala epik.”
Namun, ahli paleontologi Charles Marshall dari University of California, Berkeley berpendapat, bahwa metode statistik Alroy masih perlu review oleh masyarakat paleobiologi.
“Tidak akan ada konsensus secara langsung pada rincian pola keragaman,” tulisnya. Tapi “potongan-potongan itu telah jatuh ke tempatnya,” kata dia, seperti dimuat di new kerala